Kegiatan dilaksanakan di Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Kementerian Pertanian (Kementan), Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BPSIP) Sulawesi Utara.
Oleh; Darwin Taula’bi’ Tujuan petani membudidayakan pala tentunya untuk mendapatkan pemasukan dari hasil penjualan bijinya. Tapi harus disadari pula bahwa dalam proses budidaya, ada tahap dimana bibit pala yang ditanam di lokasi pertanaman akan menghabiskan waktu beberapa tahun pertumbuhan sampai pohon pala berbuah. Masa tunggu tersebut bisa menghabiskan waktu antara 3 sampai 5 tahun. Menurut Lestari et al. (2019) mayoritas budidaya tanaman pala dilakukan secara tumpangsari dengan tanaman lain seperti kakao, pisang, dan kelapa. Hal tersebut dilakukan karena pertimbangan petani bahwa masa tunggu tanaman pala hingga menghasilkan yang cukup lama yakni 5 hingga 7 tahun dari awal penanaman Di Sulawesi Utara, tanaman pala pada umumnya ditumpangsarikan dengan kelapa yang sekaligus sebagai naung...
Tomohon,12 Maret 2022 .---Membangun Bumi Rumah Kita Bersama, adalah amanah Ilahi yang wajib dijalankan umatnya. Agama apapun, keyakinan apapun, alam ciptaan Tuhan adalah milik kita bersama sebagai insan ciptaanNya. Dan kita semua penghuninya, yang bertanggung jawab merawatnya. Bagi yang Nasrani: TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya di taman Eden, untuk mengusahakan dan memelihara taman itu (lht.Kej 2:15). Demikian dengan saudara-saudara agama lain, pasti memiliki ajaran dan pandangan terkait Bumi sebagai ciptaan ilahi dan memiliki kewajiban sama untuk merawatnya. Sehingga insan ciptaanNya sehat sejahtera, menikmati cipataaNya sambil mengusahakan dan merawatnya. Espektasi ( expectation ) manusia mengusahakan telah ‘gagal’. Upaya-upaya pengusahaan ciptaanNya, masih lebih pada mengambil keuntungan saja dan merugikan sesama mahluk hidup lain ( eksploitasi) . Terjadi ketidak seimbangan sesama penghuni, dalam Bumi Rumah Kita bersama, ketika eksploitasi saja. Manusia yang bera...
Krisan Ku'lo, atau tanaman bunga krisan warna putih, adalah tanaman spesifik lokal di kota Tomohon. Tanaman ini didatangkan oleh para Misioner di Tomohon. Menurut penuturan budayawan dan penulis buku H.B.Palar, ketika diskusi dengan penulis, bahwa Misioner Katolik mereka membawa bunga Krisan, yang kala itu dikenal Seruni. Karena di gereja, biasanya ketika akan diadakan misa, selalu altar dihiasi dengan tanaman bunga. Sehigga ketika Pastor pulang ke Belanda, beliau membawa bunga ini. lalu diberikan pada kostor (pembantu di gereja) untuk ditanam di sekitar halaman gereja. Tanaman ini bertumbuh dan mengeluarkan bunga. bunga-bunga dipetik dan dihias di gereja setiap Misa. Dari sinilah tanaman Seruni/ Krisan adaptif di Tomohon. Tanaman ini tumbuh normal dan terus dikembangkan, sampai dikenal dengan Krisan. Krisan ini, ada yang putih, dan kuning. Karena warna ini sesuai dengan entitas orang katolik putih dan kuning. Tanaman ini, tidak membutuhkan perlakuan khusus, awalnya. hanya d...
Komentar
Posting Komentar
arnoldturang.bptpsulut@gmail.com